iklan

ADMF: Emiten Berpeluang Buy On Low Saat Corona

Di tengah pandemi Corona seperti saat ini, rupanya masih ada emiten tangguh yang masih bisa survive. Ialah ADMF, emiten di sektor finance yang layak dikoleksi oleh para investor.

iklan

iklan

Dalam dunia investasi, resesi bukan hanya dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, resesi juga bisa menjadi peluang untuk mendapatkan saham-saham terbaik dengan harga diskon. Meskipun demikian, hanya emiten-emiten terkuat dalam sektornya-lah yang mampu survive selama resesi, hingga akhirnya menjadi saham pemenang. Salah satu emiten yang menarik untuk dikoleksi di masa resesi adalah Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF).

ADMF adalah emiten pembiayaan kendaraan bermotor, baik bekas maupun baru. Dealer dan kantor cabangnya tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, antara lain Jabodetabek, Banten, Pekalongan, Magelang, Solo, Gresik, Medan, Lampung, Denpasar,  Kotamobagu, Balikpapan, Ambon, hingga Jayapura. ADMF selama ini diincar oleh para pemburu dividen. Di masa resesi seperti saat ini, mendapatkan ADMF di harga rendah sangat mungkin terjadi.

 

Mengulas Trik Kenaikan Laba Bersih ADMF

Karena hanya sebagai lembaga pembiayaan, ADMF tidak perlu mengeluarkan modal sebagai beban pokok pendapatan. Alhasil, Marjin Laba Kotornya bisa mencapai 100%. Berikut informasi mengenai Marjin Laba dari ADMF:

Marjin laba ADMF

Mengenai Laba Operasional, kita bisa lihat bahwa beban operasional dari ADMF kecil saja. Dengan ketatnya beban operasional, kita mendapati Marjin Laba Operasional ADMF cukup besar, yaitu sekitar 70% hingga 84% per tahun. Efisiensi yang dilakukan emiten juga memungkinkan Laba Bersih ADMF untuk terus merangkak naik sejak 2014, dari 9.6% menjadi 22% di tahun 2019. Jika dihitung, maka pertumbuhan Marjin Laba Bersih sekitar 18.04% per tahunnya. Kondisi tersebut adalah hal yang sangat menyenangkan bagi investor.

Singkatnya, kenaikan Marjin Laba Bersih adalah tanda manajemen yang baik. Manajemen dinilai sudah cukup pandai untuk melakukan efisiensi pengeluaran lainnya, sehingga persentase Laba Bersih terus meningkat setiap tahunnya. 

Laba Per Saham ADMF

Dari tabel di atas, pendapatan ADMF tampak mengalami peningkatan dengan rerata 3% per tahun. Kenaikan pendapatan terhitung dari Rp8.25 Triliun pada 2014 menjadi Rp9.51 Triliun pada 2019. Prestasi tersebut tak lain karena kelihaian manajemen ADMF dalam mengolah sumber daya sehingga menjadi semakin efisien.

Selain itu, performa yang terus meningkat tercermin dari ROE dan ROA yang diperolehnya.

Tabel ROE dan ROA ADMF

Karena memiliki Marjin Laba yang terus meningkat, investor berharap pembagian dividen bisa dilakukan secara rutin dengan nilai yang terus bertambah pula.

Pembagian dividen ADMF

Pada 2019 lalu, investor ADMF mendapat dividen sebesar Rp908 per lembar saham. Tahun ini, ADMF berencana membagikan dividen lebih dari 1,000 rupiah per lembar sahamnya. Dengan harga terakhir sebesar 6,550, maka dividend yield-nya diperkirakan sebesar 15%. Angka setinggi itu, plus asumsi emiten rutin membagikan dividen sebesar Rp1,000 per lembar saham, membuat investor bisa balik modal hanya dari dividen selama 9 tahun. Itulah mengapa, emiten satu ini sangat disukai oleh para pemburu dividen.

Selain proyeksi pembagian dividen, investor juga bisa mengharapkan capital gain dari ADMF. Saat ini, ADMF dihargai 6,550 per lembar. Dengan Laba Per Saham (EPS) sebesar 2,108, diperoleh rasio PE sekitar 3.02x.

 

Bisa Tembus 32,750

Karena memiliki pertumbuhan EPS yang terus meningkat, valuasi saham ADMF dapat dilihat sebagaimana tabel di bawah ini:

Tabel EPS ADMF

Kita bisa mempertimbangkan perhitungan valuasi menggunakan PEG (PE Growth ala Peter Lynch):

Cara Menghitung PE Growth

Dengan PE sebesar 3x dan CAGR dari EPS selama 3 tahun sebesar 14.39%, maka PEG-nya adalah 0.21x. Artinya, harga saat ini baru memenuhi seperlima harga wajarnya. Untuk mencapai PEG 1, harga wajar ADMF semestinya 5 kali harga saat ini. Atau dengan kata lain, 5 x 6,550 = 32,750 per lembar saham. Apakah mungkin?

Untuk saat ini tentu saja tidak, tetapi kita bisa mengharapkannya dalam 3 tahun ke depan. Mengapa 3 tahun? Karena rumus PE yang diterapkan adalah berdasarkan EPS selama 3 tahun terakhir. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan rasio PE sebesar 3x saja.

 

Jadi, Bisakah ADMF Dikoleksi Saat Resesi?

Saat terjadi pandemi seperti saat ini, orang-orang cenderung menahan keinginannya untuk membeli kendaraan baru. Emiten penjualan seperti AUTO, SMSM, dan sejenisnya mengaku bahwa setiap kali ada resesi, maka permintaan kendaraan baru selalu menurun. Orang-orang rupanya lebih senang memperbaiki kendaraan yang sudah dimiliki daripada membeli baru. Pun, kebijakan relaksasi kredit yang diteken oleh pemerintah cenderung memberatkan ADMF karena cicilan kendaraan akan semakin sulit dilunasi. Tapi justru di saat inilah, kita bisa mendapatkan ADMF di harga rendah.

 


Disclaimer: Analisis di atas mungkin bersifat bias karena penulis sedang berencana memiliki saham yang dibahas. Pembaca sangat disarankan melakukan kajian lebih mendalam sebelum melakukan tindakan investasi. Penulis tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian investasi yang diambil berkaitan dengan rilisnya analisis ini.

Download Seputarforex App

Arsip Analisa By : Shanti Putri
292941

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone