Menilik Jatuhnya Hari Darmawan, Pionir Ritel Modern Indonesia

288678

Dibalik eksistensi Matahari Department Store dan Hypermart sebagai retail ternama saat ini, rupanya ada sejarah ekspansi yang cukup ironis di belakangnya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Siapa yang tak kenal dengan Matahari Department Store dan Hypermart? Penduduk Indonesia pastinya cukup familiar dengan kedua usaha yang didirikan oleh Hari Darmawan di tahun 1958 tersebut. PT Matahari Putra Prima (kode saham: MPPA) adalah salah satu contoh dari ambisi ekspansi dengan berutang.

 

Hari Darmawan Dan Tangan Dinginnya

Hari Darmawan terlahir dari pasangan yang memulai usaha dari nol, setelah sebelumnya mengalami kebangkrutan. Berkat jerih payah orang tuanya itulah, Hari berhasil menjadi sosok yang rajin, ulet, dan tidak mudah berpuas diri.

Hari Darmawan

Selepas lulus Sekolah Menengah Atas, Hari Darmawan memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Di sinilah awal mula kisah asmaranya dengan Anna Yanti, seorang anak pemilik toko baju "Mickey Mouse" di Pasar Baru. Setelah menjalin kasih dan menikah, mertua Hari menjual toko "Mickey Mouse" kepada Hari. Di tangan dinginnya, "Mickey Mouse" menggurita dan meluas dengan cepat di berbagai titik ibukota. Puncak pencapaiannya adalah pada tahun 1968, ketika Hari mampu membeli Department Store terbesar di Pasar Baru bernama "De Zon" (bahasa Belanda yang artinya "Matahari"). Nama "De Zon" ini kemudian diubah menjadi "Matahari", yaitu sebuah toko yang menjadi cikal bakal PT. Matahari Putra Prima saat ini.

Toko Matahari menjual pakaian yang disusun dalam beberapa counter terpisah, sebuah modernitas bagi masyarakat Indonesia. Sejak berdiri, Toko Matahari nyaris tidak pernah sepi pengunjung karena konsepnya sebagai tempat belanja yang nyaman dan modern. Matahari kemudian merajai Department Store Indonesia pada tahun 1990, nyaris tanpa saingan. Kondisi inilah yang mengantarkan Matahari Department Store menuju masa-masa keemasan.

Matahari Department Store

Seiring dengan banyaknya mal-mal baru di Jakarta, Hari pun meningkatkan ekspansi usahanya dengan membuka Supermarket Super Bazaar pada tahun 1991. Supermarket ini kemudian berganti nama menjadi Matahari Supermarket, cikal bakal Hypermart.

 

Titik Awal Kebangkrutan Saham MPPA

Semua baik-baik saja sampai muncul saingan baru dengan konsep serupa dengan Matahari, yakni Ramayana Department Store. Perlahan tapi pasti, Ramayana pun tumbuh dan berkembang menjadi mal besar sekitar tahun 1991-1992. Karena merasa tersaingi, sejak saat itulah Hari Darmawan berambisi untuk melakukan ekspansi, alias memperluas pangsa pasar Matahari dengan membuka cabang hampir di seluruh Indonesia.

Prosedur pembiayaan diperoleh Hari dengan cara melantai di bursa saham, melalui skema Backdoor Listing di tahun 1992. Tepat pada tanggal 21 Desember 1992, MPPA berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia dengan harga penawaran Rp7,150 per saham. Dengan tambahan dana sekitar Rp400 miliar, Hari berhasil membangun 1,000 gerai baru. Pada tahun 1994, Hari menambahkan wahana bermain Timezone berkat kerjasamanya dengan sebuah perusahaan permainan Arcade ternama di Australia.

Timezone di Matahari

Namun baru setahun setelahnya, Hari menyadari bahwa Indonesia secara keseluruhan masih belum siap dengan Department Store modern. Memang Matahari berhasil menuai sukses di beberapa kota besar, tetapi kinerjanya di Indonesia bagian lain cenderung melempem.

Adanya kecenderungan melakukan ekspansi besar secara terburu-buru, tanpa memperhitungkan besarnya potensi pasar yang ada melalui riset-riset serupa, menjadi alasan utama kebangkrutan seorang Hari. Bak kedipan mata, hanya berjarak 4 tahun dari ekspansi awal pada tahun 1992, utang Hari Darmawan pun membengkak jadi Rp1 Triliun pada 1996.

 

Diterpa Musibah Berturut-Turut

Rupanya petaka tak hanya datang dari kebangkrutan usahanya. Sang istri tercinta, Anna Yanti, tiba-tiba sakit keras dengan diagnosa tiga penyakit sekaligus, yaitu gangguan psikopati, saraf, dan pengeroposan tulang. Kondisi ini lantas membutuhkan perawatan khusus, sehingga Anna pun dikirim ke Singapura untuk menjalani perawatan.

Perhatian Hari tentu sepenuhnya teralihkan pada kondisi sang istri, sementara pada saat yang sama, ada desakan beban operasional dan beban keuangan yang teramat dahsyat dari MPPA. Hari lantas mengalihkan seluruh kepemilikannya atas MPPA termasuk Matahari Department Store, Matahari Supermarket (Hypermart), dan Timezone kepada Lippo Group di bawah CEO James Riady saat itu.

Lippo Group

Hari boleh bersenang hati sebab menaruh pilihannya pada James Riady dianggap cukup baik, mengingat kondisi negara secara umum berkata sebaliknya. Pada tahun 1997, Indonesia memang mengalami krisis moneter. Puncaknya yakni pada tahun 1998, di mana ada 7 toko Matahari yang dibakar oleh massa.

Investor yang memegang saham MPPA pada tahun 1996-1998 pun juga merasa sedih ketika mengetahui harga saham MPPA jatuh. Hal ini merupakan akibat dari ketidakpastian fundamental MPPA, sehingga mengantarkan harga saham MPPA pada titik terendah.

Berita terakhir yang berhasil diperoleh mengenai Hari Darmawan rupanya kurang begitu sedap. Ia ditemukan tewas mengambang di Sungai Ciliwung, Cisarua, Bogor dan tidak ada seorangpun yang bisa ditanyai atau dimintai pertanggungjawaban atas kejadian ini. Meskipun demikian, kita semua telah mengetahui bahwa Hari Darmawan adalah pionir ritel Department Store modern di Indonesia.

 

Jangan Sampai Buta Karena Ambisi

Menilik kisah hidup seorang Hari Darmawan ini, maka satu hal yang bisa kita jadikan pelajaran adalah jangan sampai ambisi mengalahkan segalanya, hingga kita menjadi buta arah. Dari kisah Hari, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ambisinya untuk menangkal persaingan yang ada di pasar, membuatnya sejenak buta untuk tidak melakukan riset pasar. Pun, besarnya ekspansi yang dilakukan tanpa perhitungan matang terlebih dahulu, mengakibatkan usaha yang telah ia rintis sejak nol hingga menjadi pertokoan "raksasa" di Indonesia, harus berpindah ke tangan orang lain dalam sekejap saja.

 

Artikel ini merupakan bagian kedua dalam Trilogi Drama Ambisi Ekspansi Dengan Cara Berutang. Episode terakhir dari seri ini dapat disimak di "Akankah Ekspansi ERAA Berujung Malapetaka?"

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'