Valuasi Saham Yang Wajib Diketahui Semua Investor

Valuasi saham adalah penilaian atas harga wajar saham yang dibagi menjadi valuasi absolut dan valuasi relatif. Berikut hal yang wajib Anda ketahui tentangnya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dalam analisa teknikal, kita mengenal adanya batasan-batasan support dan resistance sebagai titik Cut Loss dan Take Profit; sedangkan dalam analisa fundamental saham, ada yang bernama Margin of Safety (MoS). MoS adalah selisih antara harga saham saat ini dengan harga wajarnya. Semakin besar selisihnya, maka dinilai semakin baik. Misalnya saham MBAP. Harga wajar saham MBAP adalah Rp10,989, sedangkan harga sekarang adalah 3480 maka MoS nya adalah 68 persen. Maka dapat dikatakan valuasi saham MBAP masih murah. Apa itu valuasi saham?

 

Valuasi Saham

 

 

Pengertian Valuasi Saham Dan Jenisnya

Penilaian atas harga wajar saham dinamakan valuasi saham. Valuasi dilakukan atas berbagai macam pertimbangan dalam menentukan nilai intrinsik suatu saham, tetapi semuanya dibagi menjadi 2 (dua) kategori, yaitu valuasi absolut dan valuasi relatif. Valuasi absolut banyak sekali ragamnya sesuai dengan peruntukannya masing-masing dan pengembangannya juga sangat luas, sedangkan valuasi relatif hanya ada beberapa saja.  

Nilai valuasi absolut tidak pernah sama antara seseorang dengan orang lain. Misalnya harga wajar tanah per-100 m2 di Bali menurut A adalah 1.5 milyar, menurut B pantasnya adalah 2 milyar, menurut C harganya seharusnya 1 milyar saja per 100 m2. Valuasi absolut tidak pernah sama antara satu orang dengan orang lainnya.

Dalam konteks valuasi saham, seorang investor minimal harus menguasai valuasi relatif, karena nilai valuasi relatif antara seseorang dengan orang lain pasti akan sama.

 

 

Valuasi Relatif Saham

Untuk melakukan valuasi relatif, pertama-tama, kumpulkan emiten-emiten yang berada dalam satu sektor yang sama; lalu buatlah tabel data berisikan harga terakhir, jumlah saham beredar, laba tahun terakhir atau kuartal terakhir disetahunkan, dan ekuitasnya. Kemudian, kalkulasi  Price per Earning Ratio (PER) dan Price per Book Value Ratio (PBV).

 

1. Price per Earning Ratio (PER)

Rasio PE atau PER adalah metode untuk membandingkan harga saham saat ini dengan kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Pertama, tentukan Laba per Jumlah Lembar Saham yang Beredar (Earning per Share/EPS) dengan metode;

 


EPS = Laba Bersih (Estimasi Tahun Berjalan) / Jumlah Saham yang Beredar


 

Setelah itu, tentukan posisi harga sekarang apakah sudah termasuk murah atau mahal dengan rasio harga per EPS;

 


Price Earning Ratio (PER) = Harga per Lembar Saham / EPS


 

Rasio PE (PER) di atas adalah suatu cara melihat kepantasan harga suatu saham dari labanya. Dengan laba sekian, apakah harga saham termasuk murah atau mahal. Contoh: PER 3x artinya apabila berinvestasi sekarang maka balik modal dalam 3 tahun ke depan. Makin kecil PER, maka dianggap semakin baik.

Metode PER juga ada kelemahannya. PER hanya melihat laba saat ini saja, sedangkan kenaikan laba terkadang bukan datang dari operasionalnya, melainkan dari jual aset atau dari pinjaman. Maka teliti dahulu sebelum melakukan valuasi PER, apakah laba benar-benar datang dari bisnisnya atau dari yang lain? Apabila laba datang dari operasionalnya, maka bolehlah valuasi PER dilakukan.

 

2. Price per Book Value Ratio (PBV)

Metode valuasi PBV adalah membandingkan harga saham sekarang dengan nilai buku suatu perusahaan. Pertama, ketahui dahulu Nilai Buku per Lembar Saham (Book Value per Share Outstanding/BVPS) dengan cara;

 


BVPS = Total Equity / Total Outstanding Shares


 

Lalu setelah didapat BVPS nya, maka dapat dicari PBV nya;

 


PBV = Harga per Lembar Saham / BVPS


 

Dari hasil penghitungan PBV, dapat diterjemahkan:

  • PBV = 1 maka artinya harga saham saat ini sebanding dengan nilai buku (ekuitasnya).
  • Disebut murah apabila harga sekarang di bawa nilai bukunya atai PBV < 1x.

Valuasi saham menggunakan PBV memiliki kelemahan. Dalam beberapa kasus, PBV kecil tidak sama dengan artian perusahaan bagus yang sedang diskon. Bagaimana bisa demikian?

Menggunakan analogi sederhana; misalnya ada sebuah hotel dibangun di tengah hutan belantara dengan nilai bangunan seharga 1 milyar, tetapi dijual 100 juta pun tidak ada yang membeli, padahal 100 juta per 1 milyar artinya PBV hanya 0.10x yang berarti sudah sangat murah dibanding harga bangunan yang sebenarnya. Akan tetapi, karena lokasinya di tengah hutan, maka membuatnya sulit mendapatkan laba karena tidak banyak yang menginap di sana. Dengan demikian, kita dapat menyebut hotel ini murah, tetapi tidak layak dibeli. 

Hal yang sama juga berlaku pada saat menilai sebuah emiten. Pastikan emiten tersebut memang layak dibeli sebelum melakukan valuasi saham, yaitu dengan cara melihat laba yang dihasilkan apakah sudah sesuai dengan modal yang dikeluarkan? Apakah konsisten? Temuan dari valuasi saham yang hanya berdasarkan hitungan rasio-rasio di atas tak bisa langsung digunakan begitu saja untuk mengambil keputusan, tanpa penggalian lebih dalam.

 

 

Teknis penilaian saham lainnya yang harus diketahui investor adalah mengenai perhitungan harga teoritis dalam menentukan sikap ketika terjadi aksi korporasi HMETD. Simak pada artikel Cara Menghitung Harga Teoritis Saham Rights Issue.

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'