Pertumbuhan Diprediksi Turun, Suku Bunga Indonesia Stagnan

The World Bank pada hari Selasa (10/6) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Dunia tahun 2014. Keesokan harinya, Bank Indonesia juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehubungan dengan kondisi ekonomi fundamental yang kurang kondusif.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

The World Bank pada hari Selasa (10/6) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Dunia tahun 2014. Keesokan harinya, Bank Indonesia juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehubungan dengan kondisi ekonomi fundamental yang kurang kondusif.  

Ekonomi Global Turun, Indonesia Ikut Terjepit

The World Bank merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini dari 3,2% menjadi 2,8%. Secara khusus, World Bank juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dari 2,8% menjadi 2,1%, serta proyeksi pertumbuhan kelompok negara-negara Berkembang dari 5,3% menjadi 4,8%.

Menurut laporan BBC, World Bank menganggap performa ekonomi tahun 2014 akan mengecewakan sebagai dampak temporer dari krisis Ukraina, cuaca buruk di AS, serta berbagai faktor lain. Ekonom World Bank juga menyarankan negara-negara berkembang untuk melakukan perbaikan struktural dan tidak menunggu bantuan dari negara-negara maju yang saat ini juga sedang mengalami tekanan berat dalam perekonomiannya. Beberapa sektor yang disarankan oleh World Bank untuk diperbaiki adalah bidang energi, infrastruktur, ketenagakerjaan, dan iklim bisnis wilayah.

Di sisi lain, Bank Indonesia dalam press release-nya kemarin (13/6) menyebutkan bahwa Indonesia saat ini mengalami pelambatan konsumsi rumah tangga dan investasi dari bidang investasi bangunan, serta dampak temporer penerapan UU Minerba. Investasi non-bangunan masih cenderung meningkat, serta ekspor manufaktur diharapkan akan terus membaik seiring perbaikan ekonomi global. Akan tetapi, tidak disebutkan apakah kedua hal tersebut dapat menopang defisit neraca perdagangan dan neraca berjalan yang semakin besar akibat kemunduran ekonomi global dan depresiasi Rupiah.

Indonesia

Inflasi Terkendali, Tapi Rupiah Terdepresiasi

Inflasi Indonesia bulan Mei 2014 meningkat tipis menjadi 7,32% (yoy) dari bulan sebelumnya 7,25% (yoy), namun masih dianggap terkendali karena melimpahnya panen sejumlah bahan pangan menekan harga pangan dan inflasi inti tetap stabil. Angka tersebut dikatakan oleh BI masih mendukung pencapaian target inflasi 2014 yang sebesar 4,5±1%.

Namun demikian, defisit perdagangan Indonesia melebar gara-gara impor yang meningkat. Nilai tukar Rupiah juga mengalami depresiasi yang cukup parah pada bulan Mei 2014, merosot sebesar 0,97% ke level Rp 11.675. Penurunan ini terus berlanjut di awal Juni ini. Kurs tengah BI USD/IDR kemarin ditutup pada Rp 11.813.

Dalam kondisi perekonomian demikian, Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi, tetapi mempertahankan tingkat suku bunga acuan. Perekonomian Indonesia tahun 2014 diperkirakan tumbuh 5,15%, melambat dari pertumbuhan tahun lalu yang tercatat 5,8%. Namun Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia kemarin memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada 7,5%, dengan suku bunga pinjaman 7,5% dan suku bunga deposito 5,75%. Keputusan ini menggenapkan ketujuh kali berturut-turut BI menetapkan suku bunga pada level yang sama. BI memperkirakan pihaknya akan terus memberlakukan kebijakan uang ketat ini hingga akhir 2014 guna menanggulangi potensi defisit neraca berjalan yang membengkak.

Butuh Perubahan Struktural

Marketwatch mengutip pejabat Bank Indonesia mengatakan bahwa kebijakan uang ketat tak bisa sepenuhnya membendung masalah defisit, serta menekankan perlunya perbaikan struktural dari pihak pemerintah. Namun dalam kondisi saat ini, perubahan struktural harus menunggu pemerintah baru terbentuk setelah Pemilu. Sementara itu, Bursa Efek Indonesia hari ini kembali memerah dan Rupiah diprediksi masih lemah. Kebanyakan analis memperkirakan pelemahan Rupiah akan berlanjut karena ketidakpastian hasil Pemilu 9 Juli mendatang dan kenaikan musiman impor di Bulan Ramadhan.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.