Advertisement

iklan

ETF: Alternatif Di Kala Reksadana Saham Jeblok

Performa Reksadana Saham yang berisiko tinggi bagi para investor bisa diantisipasi dengan alternatif investasi yang lain, yakni ETF indeks saham. Mengapa demikian?

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Tahukah Anda? Melakukan balancing portofolio tidaklah mudah. Pertanyaan seperti saham apa yang harus dibeli, berapa jumlahnya, disimpan sampai kapan dan lain sebagainya, terus membayangi para investor saham. Oleh karena itu, banyak investor yang kini beralih ke reksadana; pool of fund yang dikelola oleh seorang Portfolio Manager dalam sebuah perusahaan Manajer Investasi.

Seorang Portfolio Manager umumnya memiliki pendidikan yang baik di bidang keuangan, mengantongi sertifikat keahlian yang dibutuhkan, serta biasa dibombardir oleh berita dan info keuangan setiap hari. Maka dari itu, beberapa reksadana menawarkan keuntungan imbal balik pasti. Jika Anda tertarik untuk menitipkan sejumlah modal di reksadana, maka pastikan Anda bersikap cermat dan teliti sebelum memutuskan berinvestasi.

Apa Itu Reksadana

(Baca Juga: Investasi Reksadana: Keuntungan Dan Kelemahannya)

Adapun IHSG pada periode awal November hingga 18 November lalu terkoreksi 1.86%. Namun, ada sekitar 18 reksadana, terutama reksadana saham, justru menunjukkan penurunan performa; berkinerja negatif dengan imbal hasil (return) ambles lebih dari 30%. Dua di antaranya adalah reksadana Minna Padi Pasopati Saham dan Minna Padi Pringgondani Saham. Kedua reksadana tersebut menawarkan janji return pasti (fixed return) masing-masing 11% selama 6-12 bulan.

Minna Padi Pasopati Saham dan Minna Padi Pringgondani Saham adalah reksadana jenis terbuka. Artinya, saham yang menyusun reksadana (unit penyertaan produk) dapat diperjualbelikan kapanpun setiap waktu. Selain itu, reksadana jenis terbuka juga sangat terpengaruh kondisi pasar, sehingga performanya tidak dapat dipastikan. Apabila performa reksadana ternyata negatif bahkan jatuh hingga lebih dari 30% dari total nilai, tentu konsumen merasa dirugikan karena sebelumnya sudah dijanjikan kepastian return.

Sebenarnya, reksadana terbuka tidak boleh menetapkan kepastian return karena melanggar Pasal 9 ayat 1 huruf K UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang berbunyi:

"Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan suatu barang dan/atau jasa secara tidak benar, dan/atau seolah-olah: k. menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti."

Untuk itu, ada baiknya Anda meneliti terlebih dahulu sifat reksadana sebelum membelinya dalam jumlah besar. Banyaknya reksadana dengan return jeblok menandakan bahwa bukan hanya investor awam yang kesulitan meracik portfolionya, tetapi seorang Portfolio Manager pun ternyata tidak kebal dari market downfall.

Untuk beberapa reksadana milik BNP Paribas atau Schroder, performanya masih baik, tetapi NAB-nya cukup mahal. Sebaliknya, reksadana dengan NAB murah biasanya memiliki performa acak-acakan. Untuk menyiasatinya, Anda bisa berkiblat pada pepatah ini:

If you can’t beat the market, then be the market.

Jika portfolio yang Anda susun tidak dapat mengalahkan performa indeks, beli saja indeksnya.

Lantas, manakah indeks saham yang paling prospektif dan menjanjikan bagi investor Indonesia?

 

Perbandingan IHSG Versus S&P 500 Dan KOSPI

Secara jangka panjang, IHSG ternyata memberikan return jauh lebih besar dibandingkan indeks saham negara lain. Hal ini karena Indonesia adalah negara berkembang dengan kondisi ekonomi yang masih terus bertumbuh, sementara negara-negara maju cenderung minim.

Berikut grafik perbandingan return indeks di beberapa negara:

IHSG, Indeks Saham Dengan Return Terbesar

Dalam rentang waktu 20 tahun terakhir (sejak 1 Januari 1999 hingga akhir November 2019), IHSG mampu memberikan return sebesar 1373.32% atau 13 kali lipat. Sementara dalam 10 tahun terakhir (sejak 1 Januari 2009 hingga akhir November 2019), IHSG memberikan return sebesar 392%. Bagaimana dengan indeks saham AS?

IHSG versus S&P 500

Gambar di atas menunjukkan indeks S&P 500 yang terdiri dari 500 saham-saham utama Amerika Serikat. Berdasarkan gambar tersebut, kita bisa melihat bahwa S&P hanya mampu memberikan return sebesar 186.95% dalam 20 tahun terakhir. Sementara nilai return yang berhasil diperoleh S&P 500 selama 10 tahun terakhir tampak jauh lebih baik, yakni sebesar 291%.

Selain S&P 500, ada pula KOSPI yang merupakan indeks saham Korea Selatan. Dalam waktu 20 tahun, KOSPI berhasil mencatatkan return sebesar 661%, jauh lebih besar dari S&P. Sedangkan dalam 10 tahun terakhir, KOSPI hanya mampu memberikan return sekitar 135%, karena saat itu Korea Selatan sedang memasuki fase sebagai negara maju.

IHSG Versus Kospi

Dari beberapa ilustrasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa IHSG mampu memberikan return tertinggi dibandingkan indeks lain karena Indonesia termasuk negara berkembang. Dalam hal ini, emiten-emiten dalam negeri yang berperan sebagai komponen penyusun IHSG masih sangat prospektif hingga beberapa waktu ke depan.

IHSG secara umum memiliki return yang positif, meski pernah negatif saat resesi mortgage failure di Amerika Serikat tahun 2007-2008 silam. Sayangnya, IHSG tidak diperdagangkan sebagai sebuah unit investasi seperti halnya indeks Nikkei di Jepang dan Hangseng di Hongkong.

 

ETF Sebagai Alternatif Investasi

ETF adalah produk investasi reksadana dengan aset dasar yang dapat ditransaksikan di bursa. Aset dasar efek yang ditransaksikan di bursa bisa berupa saham maupun obligasi. Menurut definisi OJK, ETF adalah reksadana yang kinerjanya mengacu pada indeks tertentu serta biasa diperjualbelikan layaknya saham di bursa. Sedangkan BEI mendefinisikan ETF sebagai reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek.

ETF dapat dibeli layaknya saham biasa dengan kode XIIT. XIIT sendiri merupakan ETF IDX30 yang dikeluarkan oleh sekuritas Indo Premier. ETF IDX30 adalah reksadana yang 80% dananya digunakan untuk membeli 30 saham utama pembentuk IHSG, sementara 20% sisanya dibelanjakan di pasar uang domestik. Dengan demikian, membeli sebuah XIIT sama dengan membeli 30 saham penyusun IDX30 yang merupakan saham-saham utama penyusun IHSG.

Karena ETF ini didasari oleh saham-saham utama yang menyusun IHSG (IDX30), maka ETF memiliki acuan yang jelas dan dianggap sebagai produk investasi pasif.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat bahwa pergerakan ETF IDX30 nyaris identik dengan IHSG. Dengan demikian, dapat pula dikatakan bahwa membeli ETF ini sama dengan membeli IHSG.

 

Jika Anda merasa tertantang untuk dapat mengalahkan return IHSG, ada ETF-ETF lain yang bisa dipilih, antara lain:

ETF lain setara IHSG

Gencarnya pembangunan infrastruktur di era Presiden Jokowi membuat ETF bertema infrastruktur memliki performa paling moncer saat ini. ETF SMinfra-18 contohnya, dibentuk oleh perusahaan milik negara, yaitu PT Sarana Multi Infrastruktur. Portofolio dari SMinfra-18 adalah 18 saham infrastruktur dengan return sebesar 12.4%, disusul ETF saham-saham BUMN (XISC) sebesar 12.1% karena naiknya anggaran BUMN.

Jika Anda ingin membeli ETF per sektor, maka penting untuk memahami siklus sektor-sektor. Yang menarik dari ETF adalah adanya tata kelola portofolio transaksi secara lebih transparan.

 


Disclaimer: Penulis memiliki ETF yang disebutkan di atas. Sangat disarankan kepada pembaca untuk meneliti lebih lanjut tentang keputusan investasi yang akan dibuat terkait dirilisnya artikel ini.

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'