OctaFx

iklan

Bagaimana Berinvestasi Seperti Warren Buffett

216212

Hanya karena harga suatu saham atau indeks pasar saham secara keseluruhan sedang turun, tidak lantas Anda harus membeli saham; demikian pula sebaliknya.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Banyak investor melakukan kekeliruan dalam meniru gaya investasi melawan arus yang dipopulerkan oleh Warren Buffet. Hanya karena harga suatu saham atau indeks pasar saham secara keseluruhan sedang turun, tidak lantas Anda harus membeli saham; demikian pula sebaliknya. Mitch Goldberg, presiden dan penasehat keuangan di perusahaan konsultan ClientFirst Strategy, mengingatkan bahwa aksi melawan arus tidak bisa dilepaskan dari penilaian intrinsik suatu aset (value investing).

Berinvestasi Seperti Warren Buffett - ilustrasi

Value Investor: Berinvestasi Seperti Warren Buffett

Value investing adalah paradigma investasi yang dikembangkan dari ide-ide Ben Graham dan David Dodd dari Columbia Business School, Amerika Serikat, pada 1928. Sejak kelahirannya, ide ini telah berkembang luas sehingga terlahir lagi dalam berbagai bentuk, namun konsep dasarnya pada umumnya melibatkan tindakan membeli sekuritas yang nampak berharga rendah apabila dipandang dari analisa fundamental tertentu. Contohnya, saham perusahaan yang diperdagangkan pada PBV rendah, memiliki yield dividen tinggi, dan lain-lain.

Warren Buffett
Warren Buffett adalah salah satu tokoh yang mempopulerkan paradigma investasi ini dengan menyatakan bahwa esensi dari value investing adalah membeli saham pada harga yang lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Berkat investasi-investasi yang dibuatnya berdasarkan strategi tersebut, Buffett menjadi langganan dalam daftar orang terkaya di Dunia dan disebut-sebut sebagai investor paling sukses di abad ke-20. Salah satu himbauan populernya, "saat untuk menjadi serakah adalah ketika yang lain ketakutan (the time to be greedy is when others are fearful)", banyak ditiru oleh investor-investor lain. Kedengarannya simpel, tetapi pada prakteknya, berinvestasi seperti Warren Buffet tidak sesederhana itu. Baru-baru ini, Warren Buffet juga mengatakan pada rapat pemegang saham perusahaan investasinya, Berkshire Hathaway, bahwa value investor yang tidak bisa merasa sakit bukanlah value investor sama sekali.

Saat Buffett membeli saham di masa resesi dulu, ia dengan visi jangka panjang dan hati-hati memilih hanya saham-saham ber-neraca kuat dan dengan manajemen berpengalaman. Gaya investasi itu terbukti telah memberikan profit besar dengan mulus, tetapi  beberapa pembelian saham yang dilakukannya belum menelurkan hasil hingga saat ini. Ia bahkan tercatat telah menjual rugi saham supermarket Inggris Tesco dalam tahun 2014.

Berinvestasi Melawan Arus

Menurut Goldberg, definisi berinvestasi melawan arus itu rangkap tiga. Pertama-tama, membeli perusahaan yang masa ekspektasi akan berhasil-nya sudah lewat (investor lain sudah tidak sabar memegangnya). Tetapi untuk bisa memilih perusahaan yang tepat, investor juga harus bisa mengidentifikasi perusahaan mana yang punya rencana untuk mengembangkan bisnis dan memiliki fundamental bagus, sehingga meski rencana investasi gagal, setidaknya investor akan memiliki sesuatu yang berharga untuk dijual di kemudian hari.

Kadang-kadang harga saham suatu perusahaan punya alasan bagus untuk jatuh, dan karena itu maka harga sahamnya tak bisa pulih kembali. Tetapi perbedaannya dengan kejatuhan harga saham yang hanya sementara itu sulit diketahui. Oleh karena itu, jika Anda melawan arus, maka Anda harus bersedia untuk memegang posisi rugi selama beberapa saat sembari terus memonitor perkembangan perusahaan.

Berinvestasi Seperti Warren Buffett - ilustrasi
Investor yang sekedar mengatakan "Saham turun, saya harus beli lebih banyak", atau "Jika orang lain menjual maka saya akan beli" adalah investor-investor malas. Investor yang baik akan menyelidiki sebab-sebab dan alasan mengapa harga suatu saham merosot. Walaupun harga saham turun semakin dalam, kalau alasan pembelian saham itu belum berubah, maka menambah koleksi saham yang sama pun baik.  

Walaupun tentu saja, hal ini lebih cocok digunakan dalam konteks investasi jangka panjang. Membuat keputusan investasi yang melawan arus berarti Anda siap memegang saham yang mengalami berbagai siklus termasuk stagnasi. Dengan jangka lebih panjang maka Anda akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk merealisasikan profit yang diharapkan dari pembelian saham.

Berapa lama jangka panjang itu? menurut Goldberg, ia memberi waktu dua tahun hingga investasi membuahkan hasil. Berdasarkan pengalamannya, dua tahun adalah jangka waktu yang dibutuhkan oleh manajemen suatu perusahaan untuk menyusun rencana dan bagi kegiatan restrukturisasi serta stakeholder untuk merespon rencana tersebut. Jika ternyata hasil muncul lebih cepat, maka itu hebat; namun jika butuh waktu lebih lama, maka perlu mulai mempertanyakan apakah rencana-rencana perusahaan masih relevan.

Karakteristik Investor Pelawan Arus

Lebih lanjut, Mitch Goldberg mendeskripsikan empat karakteristik investor pelawan arus yang sesungguhnya:

  1. Mereka tidak memberikan batas waktu bagi diri mereka sendiri, melainkan memonitor kinerja perusahaan. Adakalanya perusahaan bisa dipercaya untuk memberikan kinerja sesuai harapan, tetapi adakalanya juga tidak bisa.
  2. Mereka mempraktekkan diversifikasi portofolio, karena kadang-kadang investasi yang dipilih dengan hati-hati pun gagal menelurkan hasil yang diharapkan.
  3. Mereka mengincar katalis potensial, seperti restrukturisasi perusahaan, spin-off salah satu divisi, potensi buyback, dan konsolidasi industri. Secara spesifik, Goldberg merekomendasikan saham di industri yang pertumbuhannya secara umum mengalami stagnasi tetapi revenue tetap stabil, yang seringkali artinya perusahaan di dalam industri itu bisa meningkatkan pertumbuhan pendapatan dan memangkas biaya cukup dengan membeli pesaingnya.
  4. Mereka mengetahui bahwa penilaian (valuation) akan suatu saham BUKAN katalis penggerak harga saham. Penilaian akan intrinsik suatu saham mungkin bisa mendorong manajemen perusahaan untuk melakukan sesuatu atau membuat investor tertarik untuk membelinya, tetapi tanpa adanya suatu momentum penting yang bisa menjadi katalis, maka harganya akan begitu-begitu saja; saham yang undervalued akan terus undervalued, dan saham yang overvalued akan tetap overvalued.


Diadaptasi dari artikel "How to invest like a 'greedy' Buffett" oleh Mitch Goldberg, presiden dan penasehat keuangan di perusahaan konsultan ClientFirst Strategy yang dipublikasikan oleh CNBC


Artikel terkait:

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.