Cara Benar Menganalisis Fundamental

Cara benar menganalisis fundamental ada 3 langkah. Dengan memahaminya, para trader forex akan memiliki tambahan referensi dalam mengambil keputusan trading.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Berita adalah sumber paling dasar dari analisis pasar. Lihat saja ketika ada rilis sebuah berita, maka harga akan fluktuatif. Respon dari perubahan ekonomi fundamental sangat berperan penting dalam mengenali gejala market serta menentukan arah geraknya. Nah, untuk itu Anda perlu mencermati berita makroekonomi dan data fundamental seperti suku bunga bank sentral. Sayangnya, cara benar menganalisis fundamental dalam forex masih belum banyak diketahui.

analisa-fundamental

Dalam trading forex, analisis fundamental saling mendukung dengan analisis teknikal. Memang tidak masalah apabila trader memilih untuk menggunakan salah satunya saja. Akan tetapi, jika trader mengetahui cara benar menganalisis fundamental forex, maka bukan tidak mungkin analisis trading secara keseluruhan akan makin akurat. Peluang untuk mendapatkan profit pun akan lebih besar karenanya. 

Analisis fundamental merupakan analisis pergerakan mata uang yang didasarkan dari data-data ekonomi dan kondisi politik suatu negara. Ketika ada rilis sebuah berita forex, maka harga akan cenderung fluktuatif. Mengapa? Ada dua sebab:

  1. Rilis berita penting dapat menjadi penggerak sentimen risiko pasar, sehingga mendorong orang untuk melakukan aksi beli atau aksi jual atas mata uang, saham, atau instrumen finansial lainnya di suatu negara. Pada gilirannya, aksi beli dan aksi jual tersebut dapat mendorong kenaikan atau penurunan nilai suatu mata uang, saham, atau instrumen finansial lainnya, serta mempengaruhi arus investasi ke suatu negara.
  2. Dalam jangka panjang, nilai suatu mata uang cenderung merefleksikan kondisi ekonomi negara penerbitnya. Apabila sebuah negara menunjukkan pertumbuhan ekonomi tinggi, maka nilai tukar mata uangnya di pasar forex akan menguat. Sebaliknya, negara yang mengalami krisis ekonomi, maka kurs-nya bisa hancur lebur dan mata uangnya tidak laku lagi, seperti terjadi pada Zimbabwe dan Venezuela.

Kedua hal inilah alasan mengapa analisis fundamental itu penting. Pertanyaannya, bagaimana trader dapat menggunakan data dan berita ekonomi untuk analisis fundamental? Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai cara benar menganalisis fundamental.

 

Langkah 1: Mempelajari Makroekonomi

Dasar dari cara analisis fundamental melibatkan studi makroekonomi dalam skala global. Untuk melakukan hal itu, lebih dahulu harus diketahui dinamika siklus ekonomi, kebijakan moneter bank-bank sentral mayor, dan sejumlah indikator ekonomi penting.

Perilaku masa lalu sebuah lembaga keuangan seperti bank sentral, memiliki relevansi yang sangat besar dalam mengambil keputusan di masa depan. Demikian pula, histori data ekonomi dapat mempengaruhi bagaimana investor memandang sehat atau tidaknya suatu negara. 

Dalam cara benar menganalisis fundamental, pemantauan atas histori data lebih penting dibanding fluktuasi sesaat. Kadangkala, fluktuasi drastis justru perlu diabaikan sebagai noise yang relevansinya rendah. Jika terlampau menghiraukan noise, maka kita justru bisa jadi korban berita dan media. 

 

  • Tentukan Fase Dalam Siklus Ekonomi

Siklus ekonomi merupakan empat fase Resesi (contraction/recession); Kelesuan, Bawah, atau Lembah (through/slump); Pemulihan (recovery/expansion); dan Puncak (peak/boom) yang terjadi secara berulang dari waktu ke waktu. Siklus tersebut akan selalu dialami oleh dunia, perekonomian negara, atau bisnis perusahaan apapun yang menghasilkan output berdasarkan produktivitas tertentu. 

Siklus EkonomiBerdasarkan data-data ekonomi, kita perlu mengetahui dua hal agar setelahnya mampu memproses cara benar menganalisis fundamental:

 

1. Kondisi ekonomi negara yang mata uangnya kita perdagangkan itu pada fase apa?

Data ekonomi apa saja yang bisa memberikan indikasi mengenai fase siklus suatu negara? Perhatikan data Gross Domestic Product (GDP)tingkat pengangguran (unemployment rate), produksi industri (industrial production), dan inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI). Data-data tersebut biasanya dirilis secara berkala oleh otoritas terkait di setiap negara, dan kita bisa mengamatinya langsung di situs resmi maupun melalui kalender forex.

Contoh Kalender Forex

Contohnya pada screenshot di atas, nampak data inflasi konsumen Zona Euro (CPI) mengalami penurunan di bulan April dibanding data periode sebelumnya (previous). Bahkan, data-data tersebut tak sampai memenuhi estimasi ekonom (forecast). Namun, jangan buru-buru menghakimi bahwa ini data negatif. Coba tengok dulu histori inflasi Zona Euro. Apakah tren inflasi benar-benar menurun, ataukah data kali ini sekedar anomali?

Inflasi Zona Euro Per April 2018

Dilihat dari histori data inflasi konsumen Zona Euro selama setahun terakhir, jelas terjadi kemerosotan beruntun. Ini merupakan kabar negatif bagi mata uang Euro. Boleh jadi, kawasan ini tengah mengalami perlambatan ekonomi.

Di sisi lain, kalender forex menunjukkan bahwa data pengangguran Amerika Serikat menurun dari 4.1% ke 3.9%. Apabila perbaikan ini dikonfirmasi oleh histori data pengangguran AS dalam jangka lebih panjang, maka bisa mengindikasikan terjadinya ekspansi ekonomi. Apalagi jika hal itu didukung oleh kinerja GDP dan inflasi yang lebih baik, maka makin menguatkan outlook ekonomi AS dalam analisis fundamental.

 

2. Kondisi ekonomi global saat ini pada fase apa?

Dengan memantau dinamika suku bunga dunia, pertumbuhan ekonomi global, dan ekspansi industri; kita dapat menyimpulkan perekonomian internasional tengah berada pada fase apa. Selanjutnya, dengan membandingkan kondisi ekonomi global dengan negara yang mata uangnya kita perdagangkan, dapat diambil satu diantara dua skenario:

  • Dalam kondisi pertumbuhan global tinggi, minat risiko investasi biasanya naik. Aset-aset finansial yang nilainya meningkat pada situasi ini termasuk saham; komoditas energi, agri, dan logam industri; mata uang komoditas (Commodity Dollar/Comdoll); serta mata uang-mata uang negara dengan fundamental lemah
  • Sebaliknya jika terjadi krisis dunia, maka semua tindakan spekulatif berisiko tinggi akan menyusut. Akibatnya, aset-aset tadi akan menderita aksi jual, kemudian mengalami penurunan nilai. Investor yang bijak akan menyusun ulang portofolio mereka, dan mengalokasikan dana pada aset-aset finansial yang dianggap lebih aman dan mata uang negara dengan fundamental lebih kuat.

Secara global, apabila produktivitas tinggi dan pertumbuhan ekonomi pesat, maka bisa menciptakan kondisi economic bubble. Ketika bubble ini pecah, maka dapat memicu terjadinya krisis yang mendorong dunia masuk dalam resesi. Fase ekonomi akan terus berubah-ubah. Oleh karenanya, kita perlu meninjau ulang analisis fundamental secara berkala, kemudian melakukan penyesuaian dalam portofolio.

 

Cara Analisis Fundamental

 

  • Periksa Inovasi Teknologi dan Kondisi Politik

Selain kondisi ekonomi itu sendiri, sentimen pasar seringkali dipengaruhi oleh inovasi teknologi serta kondisi politik dan pertahanan-keamanan (hankam). Meskipun pengaruhnya tidak langsung, tetapi perlu diwaspadai dalam melakukan analisis fundamental. 

Umpamanya, kemajuan teknologi informasi (IT) di Amerika Serikat telah melahirkan banyak perusahaan top yang masuk ke jajaran saham blue chip terunggul, seperti Alphabet (Google), Apple, Facebook, dan lain sebagainya. Keunggulan kompetitif perusahaan-perusahaan tersebut mengundang investasi asing terus menerus mengalir ke AS dan mendorong pertumbuhan pesat. Sebaliknya, negara-negara berkembang seperti Indonesia justru mengalami kesulitan mengejar perkembangan teknologi dan mempertahankan stabilitas fundamental ekonomi.  

 

Langkah 2: Mempelajari Kondisi Moneter Global

Selain makroekonomi, kondisi moneter dan kebijakan yang diambil bank sentral pun dapat mempengaruhi analisis fundamental di pasar forex. Karenanya, trader perlu mengetahui situasi moneter negara-negara maju secara lebih spesifik, khususnya tentang kebijakan moneter bank sentral

Secara umum, bias kebijakan moneter bank sentral dapat dibedakan menjadi tiga:

  • Hawkish, yaitu condong pada pengetatan moneter (tight monetary policy): menahan pertumbuhan Money Supply (M3), menaikkan suku bunga acuan, melakukan penjualan sekuritas (obligasi), dan memangkas stimulus moneter (tapering). Pertimbangannya, jika suku bunga terlalu rendah dalam waktu lama, maka bisa mengakibatkan bubble yang membahayakan perekonomian.
  • Dovish, yaitu condong pada pelonggaran moneter (loose monetary policy): mendorong pertumbuhan Money Supply (M3), memangkas suku bunga atau justru menetapkan suku bunga negatif, melakukan pembelian sekuritas (obligasi), dan melancarkan stimulus moneter (Quantitative Easing). Pertimbangannya, jika suku bunga dinaikkan saat kondisi ekonomi kurang sehat, maka nanti akan mengekang ekspansi bisnis akibat tingginya bunga pinjaman yang harus dibayar.
  • Netral, yaitu condong untuk membiarkan kebijakan yang sudah diambil, atau dengan kata lain, tidak melakukan perubahan apa-apa.

Dengan mempelajari bias kebijakan moneter global terkini, kita bisa membandingkannya dengan kondisi sebelumnya, kemudian memperkirakan dampaknya bagi perekonomian global.

Ilustrasi Hawkish dan DovishPada prakteknya dalam analisis fundamental, kita dapat bertindak berdasar rumusan berikut:

  • Kebijakan moneter longgar setelah masa resesi itu normal. Bagi kita, itu berarti kita bisa meningkatkan toleransi risiko dalam portofolio. Praktisnya, kita dapat memilih aset-aset finansial dan mata uang yang berisiko lebih tinggi.
  • Kebijakan moneter longgar berkepanjangan itu menghadirkan risiko akan terjadinya economic bubble. Mata uang negara-negara dengan fundamental ekonomi lemah akan terapresiasi (kurs naik) hingga melampaui level wajar, sehingga membuka peluang untuk melakukan short-selling atasnya. 
  • Kebijakan moneter ketat setelah masa puncak itu mensinyalkan dimulainya periode siklus berikutnya. Artinya, kita perlu mengurangi toleransi risiko dalam portofolio dengan memilih aset-aset finansial dan mata uang yang relatif lebih aman.
  • Kebijakan moneter ketat berkepanjangan itu akan memaksa spekulan untuk memangkas aksinya di pasar, karena suku bunga terus meninggi. Akibatnya, mata uang negara-negara dengan fundamental ekonomi kuat akan terapresiasi (kurs naik) hingga melampaui level wajar, sehingga membuka peluang untuk melakukan short-selling atasnya.

Namun, perhatikan bahwa keempat skenario tersebut bisa tidak terjadi, jika terjadi krisis karena pecahnya bubble, harga komoditas melesat akibat krisis, atau ada insiden geopolitik tertentu. Perhatikan bahwa analisis fundamental bukanlah hukum alam yang bersifat pasti.

 

Langkah 3: Menelaah Perbedaan Suku Bunga Dan Neraca Pembayaran

Terakhir, kita bisa menentukan mata uang mana yang akan kita jual dan mana yang akan kita beli di pasar forex berdasarkan selisih data moneter. Cara analisis fundamental ini: bandingkan selisih suku bunga dan neraca pembayaran masing-masing negara yang mata uangnya kita perdagangkan.

 

  • Suku Bunga Dalam Analisis Fundamental

Sebelumnya, penting untuk diketahui bahwa dalam dunia forex, ada mata uang mayor (major currency) dari delapan kawasan penting yang paling banyak diperdagangkan dan dominan di pasar forex. Karenanya, bank sentral dari kawasan-kawasan tersebut menjadi sorotan trader maupun investor. Berikut ini daftarnya tersebut beserta nama bank sentral masing-masing:

  1. Dolar AS (USD) dipakai oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara lain, sekaligus alat pembayaran utama dalam perdagangan internasional. Oleh karenanya, tak heran bila bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menjadi pusat perhatian di pasar forex.
  2. Euro (EUR) digunakan oleh negara-negara dalam kawasan Zona Euro. Kebijakan moneter dan stabilitas mata uang Euro merupakan tanggung jawab European Bank Central (ECB).
  3. Yen (JPY) merupakan sebutan bagi mata uang yang digunakan oleh Jepang. Dalam analisis fundamental terkait Yen, perlu memperhatikan kebijakan Bank of Japan (BoJ).
  4. Poundsterling (GBP) yang dijuluki Cable, digunakan berdampaingan dengan Euro di Inggris. Pergerakannya dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga Bank of England (BoE).
  5. Dolar Australia (AUD) merupakan salah satu Comdoll. Selain sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas dan sentimen risiko, pergerakannya juga dapat diarahkan oleh kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA).
  6. Dolar Kanada (CAD) adalah Comdoll kedua yang sangat mudah digoyahkan oleh harga minyak. Namun, kebijakan-kebijakan suku bunga yang mempengaruhinya ditentukan oleh Bank of Canada (BoC).
  7. Franc Swiss (CHF) berada di bawah otoritas Swiss National Bank (SNB). Selain dapat mempengaruhi Franc Swiss melalui kebijakan suku bunga, SNB juga diketahui sering melakukan intervensi langsung di pasar forex dengan melakukan aksi jual atau beli CHF versus Euro.
  8. Dolar New Zealand (NZD) merupakan Comdoll ketiga. Pergerakannya dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk suku bunga acuan yang ditentukan oleh Reserve Bank of New Zealand (RBNZ).

Setiap bank sentral akan meninjau ulang kebijakan dalam rapat yang diadakan secara berkala antara 4-6 pekan sekali. Pada saat itu pula, bank sentral akan mengumumkan apakah suku bunga tak diubah, akan dinaikkan, atau akan diturunkan. Hasil dari keputusan-keputusan tersebut dapat Anda lihat di situs bank sentral terkait, di kalender forex, atau di tabel data suku bunga forex.

Data Suku Bunga Negara-Negara Maju

Secara sepintas, banyak yang menganggap kalau kenaikan suku bunga akan berpengaruh positif bagi mata uang negara terkait; sedangkan penurunan suku bunga bakal berpengaruh negatif. Namun, pasca rapat berkala juga, bank sentral akan menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan ekonomi terkini serta kebijakan-kebijakan lain yang akan diambilnya sesuai kebutuhan perekonomian mendatang. Sehingga, reaksi pasar tak semata ditentukan oleh keputusan suku bunga satu bank sentral saja.


Pasar akan mencermati pernyataan bank sentral pasca rapat secara keseluruhan, untuk kemudian menyimpulkan apakah biasnya hawkish, dovish, atau netral. Pada akhirnya, reaksi pasar pasca rapat merupakan gabungan antara keputusan yang diambil saat ini serta bias bagi kebijakan di masa depan, lalu dibandingkan dengan bias negara lain. Perbandingan ini dikenal dengan istilah "divergensi kebijakan". Kita tidak bisa menyimpulkan apakah suatu mata uang akan naik atau turun, hanya berdasarkan perubahan suku bunga saja.


 

  • Neraca Pembayaran Dalam Analisis Fundamental

Neraca Pembayaran sebuah negara dapat diibaratkan Neraca Keuangan sebuah perusahaan. Semakin bagus Neraca Pembayaran, maka makin kuatlah ketahanan mata uang suatu negara dalam menghadapi gejolak ekonomi. Selain itu, ada baiknya juga memeriksa apakah Neraca Pembayaran itu didukung oleh deposit dana yang mudah keluar lagi dari suatu negara (hot money) ataukah akumulasi investasi langsung jangka panjang yang bersifat lebih permanen.

Neraca Pembayaran biasanya dapat ditilik dari data Current Account Balance (CAB) serta rasio Current Account to-GDP masing-masing negara yang dipublikasikan secara berkala. Negara-negara dengan surplus CAB dan rasio tinggi, biasanya dipandang sebagai kawasan dengan perekonomian tangguh. 

Dengan membandingkan suku bunga dan Neraca Pembayaran, maka kita dapat memutuskan tindakan berdasarkan dua skenario analisis fundamental:

  • Ketika perekonomian dunia berada pada akhir fase Pemulihan dan awal fase Puncak, minat risiko meningkat, sehingga pelaku pasar akan cenderung menjual mata uang dengan kondisi fundamental kuat dan suku bunga rendah. Sebaliknya, mereka justru akan membeli mata uang dengan suku bunga lebih tinggi, meskipun fundamentalnya mungkin lebih lemah.
  • Ketika perekonomian dunia mengalami fase Resesi dan Kelesuan, maka pelaku pasar cenderung cari aman dengan membeli mata uang dengan Neraca Pembayaran kuat. Di saat yang sama, mereka akan menjual mata uang dengan suku bunga lebih tinggi yang negaranya memiliki Neraca Pembayaran buruk. 
 

Cara Analisis Fundamental

 

 

Kesimpulan 

Cara benar menganalisis fundamental bukanlah dengan menggunakan bagus atau jeleknya data ekonomi tertentu sebagai pemicu buy atau sell. Trader harus memerhatikan data-data tersebut secara historis, data ekonomi lainnya dari negara tersebut, serta kondisi ekonomi global; baru kemudian mengambil keputusan. 

Pada umumnya, pelaku pasar menggunakan analisis fundamental sebagai acuan untuk membuka posisi trading jangka panjang yang berlawanan arah dengan posisi trading mayoritas (counter-trend). Ada tipe pelaku pasar lain yang menggunakan rilis data-data ekonomi sebagai acuan langsung untuk membuka posisi trading jangka pendek, dikenal dengan istilah News Trading. Namun, bagi pengguna cara analisis fundamental orthodox, News Trading acapkali tidak dianggap sebagai cara benar menganalisis fundamental.

 

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang analisa fundamental, selain dari kolom komentar, Anda juga bisa langsung bertanya pada ahli kami di forum tanya jawab kami.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Eko
sapa bilang analisa fundamental g rumit? cara ini justru jauh lebih rumit dan makan waktu lama dibanding teknikal. kalo teknikal mungkin proses belajarnya yang dikit ribet tapi kalo sudah paham gampang aja aplikasinya. sementara fudamental perlu update berita terus, pantau previous data, data revisi, forecast, sampe actualnya. belum lagi kalo mo pastiin tren jangka panjangnya mesti kumpulin berita lain2. kesimpulannya kalo mo berhasil mesti serius belajar dan tekun berusaha. fundamental ato tekmnikal bisa dibikin gampang kalo tradernya emang punya basic learning dibidang itu ato diambil teknik luarnya aja. kategori kedua inilah ntar yang nanggung resiko lebih besar. jadi apapun caranya mesti dipelajari baik2 dan sungguh2 biar hasilnya juga nggak setengah2.
Syariff I
@Eko: Setuju, fundamental belum tentu lebih gampang dari teknikal. Jadi buat trader yg milih fundamental co dikira lebih gampang, siap2 aja direpotin sama susahx prediksi harga dari berita doang. Ini sebenerx cuma persoalan preferensi aja. Dasarx suka hitung2an & ngamati grafik atau lebih suka update berita fundamental. Tapi biasax lebih banyak dari teknikalis yg pake dua analisa. Tunggu rilis data dan cek hasilx kadang sangat perlu supaya bisa menghindari news trading atau faktor kuat pendorong tren harga...
Subandi
contoh indikator diatas bwt usd saja? Yg untuk eur, gbp, ato jpy apa aja?
Syariff I
@Subandi: Hampir sebagian besar dari contoh indikator yg disebutin juga berpengaruh untuk mata uang selain USD. Mungkin perlu ditekankan aja asal negara yg merilis datax. Kayak di atas seharusx ada keterangan GDP AS, CPI AS, dan seterusx. Sedangkan kalo GDP Zona Euro atau Inggris jelas punya pengaruh penguatan juga untuk Euro ataupun GBP kalo datanya bagus, begitupun sebalikx. Jadi indikator itu g cuma dijadikan pedoman untuk nilai USD aja, tapi juga mata uang lain tergantung dari negara yg merilis datax...
Supri Dk
retail sales turun usd menguat?? kok bisa?? kl unemployment ane sepaham krna pengangguran makin berkurang makin baik... tp retail sales???
Adrian
Mungkin ada banyak faktor fundamental yg berpengaruh pada saat itu gan. Rilis data dalam satu waktu biasanya ada banyak. Tidak hanya satu itu saja.
Cathy
Seputarforex, info menyesatkan nih, koq dimuat sih? Ritel turun, dolar menguat, logikanya gimana? gak mesti juga lageee. Buat yang baca, jangan dianggep dah artikel ini. kalo dipake trading, pasti loss. Kalo ritel naik kan malah bagus ekonominya. Otomatis dolar kuat dong.

Justru kalo ritel turun, ekonomi jelek, dolar malah melemah. Gitu tuh BIASANYA. Tapi sering juga ada faktor X yang entah apa. Jadi biarpun ritel bagus, tapi dolar tetep jeblok karena sentimen pasar jelek. Jadi perkara indikator ini naik, dolar naik apa turun, itu nggak jaminan.